top of page

Mengajarkan Sabar lewat Coca Cola dan Mentos




Tahun ajaran baru sudah memasuki bulan kedua. Gesekan pertemanan mulai terasa. Meski sudah dibekali materi anti bully, tapi bibit-bibitnya masih ditemui. Sesuatu yang wajar, tak mudah mengubah budaya yg sudah terbentuk dan terbawa dari pengalaman sebelumnya.


Di akhir pekan seperti biasa saya menyampaikan tausiah bada magrib. Saya meminta dua orang santri untuk membantu sebuah simulasi.


Santri pertama saya beri sebotol coca cola, santri kedua saya beri sebotol air mineral. Setelah mereka membuka botolnya, saya beri mereka masing-masing permen mentos untuk dimasukkan ke botolnya.


Santri-santri lain yang menyaksikan, langsung berkerubung ingin melihat apa yang terjadi.


Dari botol coca cola terlihat busa membuncah seperti lava yang keluar dari gunung merapi. Sementara botol berisi air mineral tidak ada reaksi apa-apa. Santui saja.


Dari simulasi ini, saya melempar pertanyaan, “Apa yang beda dari dua botol ini?”


“Reaksinya…” kata beberapa santri


Lalu saya susul dengan pertanyaan, “Mengapa reaksinya berbeda?”


“Karena yang satu air bening, yang satu air coklat”


Menanggapi itu saya kembali mengeluarkan sebotol air, kini air sprite. Lalu saya minta seorang santri untuk memasukkkan mentos. Alhasil reaksinya sama dengan botol cocacola.


“Sprite ini jernih juga spt air mineral tapi mengapa reaksinya seperti cocacola?”


“Karena ada soda dan gula” kata beberapa santri.


Yup, yang membedakan reaksi itu bukan botolnya, bukan warnanya. Tapi kandungan dalam air itu.


Lalu saya bertanya lagi, yang menyebabkan reaksi membludak keluar itu apakah mentosnya atau airnya?


Sebagian santri ada yang berpendapat mentosnya, ada juga yang berpendapat airnya.


Kepada yang mengatakan bahwa mentos adalah penyebabnya, saya bertanya mengapa air mineral tetap santuy saja? Lalu mereka sadar bahwa masalahnya bukan di mentos tapi di airnya.


Sampai sana para santri sudah mulai bisa menebak ke mana saya bicara.


Jika mentos itu adalah masalah yang kita hadapi sehari-hari, kira-kira apakah kita bereaksi seperti air mineral atau air bersoda? Apakah kita tetap tenang atau langsung nyemprot?


Apa yang keluar dari mulut kita, apa reaksi kita terhadap masalah, ditentukan “air” jenis apa yang ada dalam pikiran kita. Teko berisi air comberan akan mengeluarkan air comberan. Botol berisi air sagar akan mengeluarkan air menyegarkan.


Selanjutnya saya meminta seorang santri untuk maju lagi. Saya berikan padanya cocacola kaleng, dan memintanya untuk mengguncang-guncangkannya.


“Jika kita buka kaleng ini, pasti airnya akan menyenbur. Bagaimana kira-kira agar tidak menyembur?”


Lalu seorang santri maju mengajukan solusi. Santri ini menjentik-jentik kaleng. Memutar-mutarnya. Mendiamkan kaleng itu sejenak. Setelah beberapa menit baru dia membukanya. Betul saja cocacola itu tidak menyembur. Saat ditanya mengapa tidak menyembur, dia menjawab:


“Saat air soda ini dikocok, maka akan mengasilkan gelembung-gelembung yang menempel di dinding kaleng. Karena itu saya ketuk-ketuk dinding kalengnya agar gelembungya pecah.”


Penjelasan itu hal baru untuk saya. Tapi pada intinya agar air tak menyembur, kita harus diamkan dan tenangkan dulu kalengnya.


Jika kita masih merasa diri kita air soda, maka saat mendapat guncangan, jangan langsung buka mulut kita. Karena kemungkinan besar yang akan keluar adalah semburan soda berupa kata-kata mengumpat atau menyerang. Lebih baik dinginkan dulu.


Di bagian akhir saya membuang air-air soda tadi dan mengajak santri-santri untuk mengisi botol dalam pikirannya dengan air yang jernih. Agar saat diguncang, atau dimasukkan mentos, tetap santui dan tenang. Itulah sikap Hilm, salah satu sifat Rasulullah Saw. Tetap santui meski dilempar mentos atau diguncang-guncang.


Sesi pun ditutup dengan membaca dan menghapal sebuah mahfuzhat “Man hasuna lisaanuhu, katsuro shodiiquhu” yang artinya, “Yang baik lisannya, maka banyak temannya”.

18 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page