top of page
  • Writer's pictureAdmin

3 Rahasia Sukses Pesulap Thurston yang Bisa Jadi Inspirasi untuk Pendidik



Selama empat puluh tahun Howard Thurston berkeliling dunia dan tak pernah gagal memukau penonton. Lebih dari 60 juta penonton telah membeli tiket pertunjukan sulapnya. Thurston diperkirakan telah mengantongi laba lebih dari 2 juta dolar.


Apakah Thurston lebih pintar dan hebat dari pesulap lainnya? Tidak. Tapi dia punya satu hal yang mungkin tak dimiliki pesulap lain!


Banyak tukang sulap memandang penontonnya dengan, “Ah di sana banyak orang yang mudah saya tipu, akan saya tipu mereka!”


Thurston berbeda. Ia selalu memandang penontonnya dengan penuh hormat, “Saya berterima kasih kepada penonton, karena mereka datang untuk menonton saya. Merekalah yang membuat hidup nyaman. Saya akan memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan.”


Setiap kali akan naik panggung, dia selalu berulang-ulang mengatakan pada dirinya, “Saya mencintai para penonton saya, saya mencintai penonton saya.”


Cara Thurston memandang dan memposisikan penonton jadi inspirasi buat para guru dan pendidik.


Saat mengajar, sebagai pendidik sering kali saya menganggap siswa sebagai anak-anak yang tak tahu apa-apa. Memposisikan diri lebih tahu bahkan serba tahu. Karenanya, bernafsu untuk memberi tahu. Dan jadi enggan mencari tahu.


Belajar dari Thurston, para pendidik bisa melakukan 3 hal berikut ini setiap kali akan masuk kelas dan mengajar. Kalau perlu tulis 3 kalimat ini pada sebuah poster, tempel di ruangan guru:


1. Siswa-siswa lebih cerdas dari saya. Otak mereka lebih fresh dari otak saya. Dosa mereka masih lebih sedikit dibanding saya. Saya akan belajar bersama mereka.


2. Saya berterima kasih pada siswa-siswa saya. Karena mereka, saya merasa bermakna.


3. Saya mencintai siswa-siswa saya. Saya akan mencurahkan upaya terbaik untuk mereka.


Para penonton memberikan cinta, perhatian dan rela membeli tiket Thurston. Karena Thurston memberikan dirinya yang utuh buat penontonnya.


Siswa-siswa kita juga akan memberikan cinta, hormat, dan perhatiannya. Jika kita, pendidik memberikan hal yang sama kepada mereka.


Sebaliknya, jika siswa kita belum memberikan upaya dan perhatian terbaiknya dalam belajar bersama kita, mungkin kita belum siap masuk kelas dan harus magang dulu kepada pesulap Thurston.


@irfanamalee

@peacesantren_welasasih

49 views0 comments

Recent Posts

See All

Comentarios


bottom of page