top of page

Career-connected learning

Di fase pertama awal tahun ajaran baru ini, santri tahun pertama SMP dan SMA (kelas 7 dan 10) telah menyelesaikan sebuah projek penting dalam hidupnya.


Santri kelas 7 menyelesaikan modul misi menemukan diri yang diakhiri dengan membuat proposal hidup. Sementara santri kelas 10 menyelesaiakn misi 40 hari menemukan diri diakhiri dengan menyusun dan mempresentasikan CV masa depan. Baik propsal hidup maupun CV memuat rencana masa depan meliputi life mission (tujuan), passion (minat) yang akan dijalani, vocation (kecakapan) yg akan diasah, serta profession (profesi) yang akan digeluti. Ada santri yang rencana karirnya menjadi fashion designer, content creator di bidang animal rescue, hafizh quran sekaligus pebisnis kuliner sehat, dll.


Begitulah santri membuka awal petualangan di PWA dengan memulainya dari akhir, begin from the end, istilah Steven Covey. Sehingga diharapkan mereka akan menjalani petualangan tersebut dalam rangka mengejar tujuan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban secara terpaksa. Dengan adanya tujuan yang jelas seseorang akan menjalaninya dengan disiplin dan ketabahan (grit). Kata penulis GRIT, psikolog Angela Duckworth, grit adalah ketabahan seseorang dalam mengejar tujuan jangka panjang.


Tak sedikit siswa dan mahasiswa belajar sekadar belajar, tanpa punya tujuan jelas. Tak heran banyak mahasiswa masuk sekte Himasalju, alias Himpunan Mahasiswa Salah Jurusan. Menurut sebuah study yg dilakukan oleh Bain & Company, dari 100 oran yang masuk universitas, hanya 63 yang lulus, 42 yang berhasil mendapat pekerjaan, dan hanya 16 yang mendaptkan penghasilan yg cukup untuk kehidupan mereka. Dalam study tersebut disebutkan bahwa pendidikan kita hanya fokus di menjawab soal ujian, bukan merintis masa depan.


Bahkan kini pendidikan tak lagi jadi jaminan untuk dunia karir. Tahun 2016, 90% posisi di IBM mensyaratkan ijazah S1. Tapi kini 50% posisi di IBM tak lagi mensyaratkan ijazah. Sederet perusahaan besar seperti Google, Apple, Amazon, tak lagi menysayatkan ijazah.


Karena itu dunia pendidikan kini memperkenalkan sebuah konsep “Career-Connected Learning” yaitu terhubung dengan karir masa depan serta tujuan jangka panjang. “Career-comnected Learning adalah model pendidikan yang harus kita terapkan pada anak-anak kita. Sebuah pendektan multidisiplin yang terhubung dengn dunia karir”. Kata Erin Ward Bibo, deputy career and college di DC Public School.


Pendekatan ini juga akan berkonsekuensi positif pada atmosfir pembelajaran di kelas, seperti diungkap oleh Spencer Sherman, Chief Innovation Rhide Island, “Career-connected learning akan meningkatkan engagement pelajar dalam proses belajar. Karena ini adalah jawabn bagi pertanyan mereka: apa manfaat pelajaran yg saya pelajari?”.


Itulah mengapa PWA sejak SMP sudah menerapkan pembelajaran berbasis projek dan berbasis masalah, project and problem based learning. Mereka bukan hanya belajar menjawab soal ujian, tapi berlatih menjawab persoalan kehidupan.


Di jenjang SMA. Para santri diberi misi untuk mendirikan dan mengelola perusahaan sosial (sosial enterprise). Belajar merencanakan bisnis menggunkan business canvas model, menghitung profit dan dampak. Khusus untuk SMA, bangunan didesain seperti gedung startup yg diberi nama Welas Asih Creative Hub atau WACH. Ruang belajar tidak dalam bentuk kelas pada umumnya, tapi dalam bentuk coworking space, innovation lab, hingga design-production-display space. Mohon doanya untuk proses penyelesaian WAHC yang sedang dalam proses penyelesaian interior.


Dengan konsep dan ruang belajar yang didesain sedekat mungkin dengan dunia karir masa depan, diharapkan santri mengalami masa depan di saat ini. Sehingga saat mereka memasuki masa depan, tak ada lagi kekagetan. Karena masa drpan adalah sekarang. Future is now.



84 views0 comments
bottom of page